Skip to content

Mimpi Warga Pedongkelan Sirna

January 1, 2009
pedongkelan

Kemana rumahku...!

JAKARTA – Dengan alasan penertiban kota, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur membabat habis 290 bangunan di Kampung Pedongkelan, RW 15 Kelurahan Kayuputih, Pulo Gadung. Bukan cuma tempat tinggal yang direbut dari warga di sana, tapi juga mimpi dan cita-cita. Lantas siapa yang patut disalahkan karena warga pun sadar tanah itu bukan miliknya?

Amir (48) duduk diam bersandar pada rak buku miliknya. Tatapannya kosong tertuju pada istri dan empat anaknya. Rak buku itu mungkin saja satu-satunya yang tersisa yang masih dimilikinya. Semua hartanya ludes tertimpa kayu sisa bangunan rumahnya yang dirobohkan buldozer, Minggu (5/10). Sebagian telah dititipkannya di rumah tetangga dan saudaranya.
Istrinya tengah menyusui anak bungsunya yang baru berumur satu tahun. Anak itu hampir tertidur lelap di kasur yang diletakkan begitu saja. Teriknya matahari Jakarta hanya dapat ditepis Amir dengan papan tripleks yang disandarkan di dua batang bambu yang ditegakkan. Anak keempat Amir mencoba larut dalam permainannya. Tubuhnya tak berbalut sehelai benang pun. “Nggak ada baju,” ujar Dira, istri Amir.

Amir dan keluarganya hanya satu 386 keluarga yang terkatung-katung nasibnya akibat penggusuran yang dilakukan Pemkot Jakarta Timur, Minggu. Enam belas tahun lamanya ia tinggal di kampung itu. Lelaki asal Tegal ini bukan tidak mengerti kalau ia tinggal di tanah yang bukan miliknya. Maka protes pun tak berani ia ajukan. Ia mengaku pertengahan Agustus lalu Pemkot Jakarta Timur menawarinya mengontrak di Rumah Susun (Rusun) Marunda, Jakarta Utara.
Namun, ia menolak tawaran itu. Bukan hanya karena ia harus mengontrak (bukan mencicil) rumah di rusun itu. Juga karena rusun itu terletak jauh dari lokasinya bekerja sebagai tukang sapu jalan. Ia merasa upahnya yang hanya Rp 17.000 per hari tak cukup untuk menutupi biaya transportasinya menuju tempatnya bekerja dan kembali pulang ke rumah lagi.


Akhirnya, meski harus beratapkan langit, ia dan keluarganya memutuskan untuk tetap bertahan di gubuknya yang telah rata dengan tanah. Sejak penggusuran ia, istrinya dan kelima anaknya hanya tidur beralaskan tripleks dan beratapkan langit. Ia tidak ingin tetap bertahan di sana. Ia masih menunggu sampai mendapat rumah kontrakan dengan harga terjangkau dan tidak jauh dari lokasi tempat tinggalnya semula. Jika rumah kontrakan itu telah didapatnya, ia akan segera pindah.
Lelaki yang kulitnya gosong terbakar panas matahari ini mengaku tidak pernah menerima kompensasi atas kerugian yang ditanggungnya. Kerugian besar pun harus dirasakannya. “Kayak papan ini dulu saya beli sampai Rp 500.000, sekarang belum tentu laku Rp 200.000 kalau saya jual,” tuturnya lirih. Padahal, pejabat Kecamatan Pulo Gadung telah menyediakan uang kerohiman Rp 1 juta per kepala keluarga.

Kehilangan Mimpi
Bukan cuma tempat tinggal dan harta benda yang direnggut dari warga Kampung Pedongkelan. Puluhan atau mungkin ratusan anak terpaksa kehilangan mimpinya. Cita-citanya menguap seiring dirobohkannya sekolah mereka. Sekolah Dasar (SD) Kirbat, sekolah gratis bagi anak-anak dari kaum marginal di kawasan Pedongkelan.
Andi siswa kelas 3 SD Kribat menceritakan kesedihannya karena kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan gratis. Ia juga mengaku tidak sempat menyelamatkan buku dan seragam sekolahnya lantaran saat penggusuran berlangsung ia tengah asyik bermain.
Bagi Andi, sekolah itu adalah satu-satunya jalan yang dapat mengantarnya menuju cita-citanya menjadi dokter. Namun, kini angan untuk menjadi dokter sepertinya telah roboh bersama sekolah kesayangannya itu.
Dapat bersekolah gratis adalah kebanggaan dan kebahagiaan yang sulit terlukiskan olehnya. Orang tuanya yang hanya seorang pemulung tak mampu menyekolahkannya di sekolah reguler yang harus membayarkan sejumlah uang untuk dapat menjadi siswa di dalamya.
Andi mengaku bingung dengan penggusuran rumah dan sekolah yang dialaminya. Bocah berkulit legam ini tak tahu harus pulang ke mana bila malam menjelang. Ia juga belum tahu apa yang akan dilakukannya bila libur sekolah telah berakhir. Ia hanya akan mengikuti orang tuanya. “Mamak sih bilang masih mau di sini. Tapi mau bobo di mana, nggak tau,” katanya.
Penertiban kota adalah tanggung jawab aparat pemerintah, kesejahteraan dan pendidikan warga juga tak boleh lepas dari tanggung jawab pemerintah.
Oleh
Deytri Aritonang

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: